Pengalaman itu, ketika baru pertama kali, sangat menarik dan antusias. Kedua kalinya, masih dinaungi rasa ketagihan yang menggunung, sebab belum benar-benar puas saat pertama kali.

Kemudian ketiga kalinya, di selimuti rasa rindu serta ketagihan. Selanjutnya, adalah petualangan baru, dan tanpa pernah mengenal rasa bosan. Ingin lagi dan lagi.

Apa itu? Bukan hal abnormal apalagi hal mesum loh. Itu adalah rasa yang akan kalian rasakan ketika menjelajah wisata Kota Malang.

Pertama kali saya kesana adalah waktu sebelum wisuda. Setelah kelulusan sidang, kami satu angkatan jurusan sastra setuju membuat kenangan dan merayakan kelulusan bersama. Dan kami sepakat menempatkan Malang sebagai destinasi kami.

Jujur, awalnya saya kurang setuju, sebab yang saya tahu, destinasi kota ini tidak terlalu banyak. Hanya Gunung Bromo dan petik apel yang katanya khas. Itupun tahu karena dengar dari tante.

Namun seketika pandangan saya berubah melihan ittenary yang telah disusun teman saya. Setelah melihat nama-nama tempat yang hendak kami kunjungi, saya sedikit browsing untuk mencari tahu.

Hasilnya? Keren gila!!! Awalnya sempat mengira bahwa itu saking pandainya si fotografer mengambil angel foto maupun pada editingnya. Tapi di satu sisi merasa sangat tertarik dengan apa yang tersedia.

Seolah ingin membuktikan dan menyaksikan sendiri apakah memang seindah di hasil pencarian gambar google, atau hanya sekedar kumpulan tempat wisata yang pada akhirnya tak terawat.

Hari yang direncanakanpun tiba. Sehari sebelumnya saya menyiapkan perlengkapan seperlunya saja, seperti panduan yang tlah di tulis oleh panitia dadakan.

Dan Kami Berangkat ke Malang

Sengaja menggunakan kereta api, 2 gerbong penuh dengan anak-anak yang seolah tlah lepas dari beban. Mereka nampak menikmati “kebersamaan terakhir” ini.

Meskipun agak menyebalkan ketika melihat mereka yang masih sempat pacaran dan duduk berdua bersama pacar mereka. Tapi overall, baru berangkat sudah menyenangkan.

Singkat cerita, kami sampai Malang pukul 05.25 dini hari. Dan? Dingin seolah menusuk sumsum tulang ketika baru turun dari kereta. DINGIN GILA!!!!

“Ini Kota Malang?” tanyaku sendiri dalam hati. Jajaran mobil dan driver yang kami sewa sudah menunggu di depan stasiun. Namun kami putuskan untuk tidak langsung berangkat menuju hotel. Kami memilih menghangatkan tubuh dengan seduhan kopi yang dijual lesehan di depan stasiun.

Waktu menunjukkan pukul 06.00, dan dinginnya masih terasa menusuk. Namun pemandangan di jalanan, orang-orang dengan santainya memakai kaos oblong dan lari pagi.

Sesuai dengan yang di rumorkan, kota ini pemilik hawa dingin. Namun entah mengapa dingin ini adalah dingin yang nyaman. Seperti ada aroma petichor, semacam itu.

Setelah sedikit menghangatkan badan dengan segelan teh, kami menuju mobil dan berangkat ke penginapan.

Setelah membersihkan diri, kami briefing sejenak, kemudian dilanjutkan dengan sarapan. Setelahnya kami kembali untuk siap-siap, kemudian kembali berkumpul.

Di awali dengan do’a, kami dengan tertib masuk mobil sewa yang sudah standby di depan penginapan.

Begitulah, hari pertama itu kami mengunjungi hanya 3 tempat wisata. Entah, waktu serasa cepat sangat berlalu begitu saja. Kami asyik menikmati tiap-tiap tempat yang bahkan belum seluruhnya kami jelajahi.

Jujur, rasanya sangat kurang puas. Waktu terlewat begitu saja, termakan antrean panjang kami sendiri. Bahkan kami terjebak ketika keluar serta masuk area parkir.

Sangat sayang rasanya, mustinya kemari dengan sedikit rombongan saja. Bahkan di Jatim Park 2, aku hanya dapat memasuki 4 wahana. Yang mana sebenarnya sehari tak akan cukup menjelajah semua wahana yang tersedia.

Sedang suasana serta cuaca begitu tepat hari itu. Berawan, dan sejuk. Begitu romantis benar hawa disini. Tepat sekali di jadikan destinasi wisata.

Di lanjutkan menuju wisata petik apel. Dimana pengunjung di bebaskan memetik apel sendiri sepuasnya. Dan sekali lagi, rombongan kami yang banyak ternyata menjadi kendala di luar ekspetasi kami.

Di luar itu semua, Kota Malang sangat mengagumkan. Bahkan patung singa yang menyambut kami di depan stasiun, menggambarkan bahwa kota ini memiliki identitas.

Dengan berat hati meskipun juga puas, kami pulang. Ini cukup mengesankan, mengingat tujuan kemari adalah mempererat ikatan kami sebagai kawan seperjuangan.

Dan dalam hati, saya berjanji akan menjelajah kota ini!! Saya masih penasaran pada Gunnung Bromo, Saya masih ingin ke Pantai Balekambang, masih ingin nyobain baksonya dan lain-lain.

Pokoknya, saya musti kembali!!!

Kini selang 2 tahun setelah kelulusan saya. Dengan sedikit berpuasa mengumpulkan uang saku dari pekrjaan yang lumayan menjanjikan, saya bulatkan tekad untuk ke Malang.

Kali ini, saya bersama kekasih, kebetulan di bulan ini merupakan peringatan hari jadian kita. Saya ingin merayakan/memperingati di Malang, sembari refreshing tentunya.

Gunung Bromo, BNS, Coban Pelangi, Madakaripura, dan berbagai wisata di Batu sudah ada dalam list saya.

Dan saya sudah booking jasa sewa mobil dengan driver untuk urusan transportasi kami selama menjelajah Malang. Beserta saya meminta untuk di butakan ittenary agar lebih effisien.

Seperti yang saya duga, Bromo teramat menawan dengan sunrise maupun persembahan alamnya. Terlepas bagaimana dinginnya gunung ini, saya mendapat momen begitu romantis di gunung ini.

Mulai dari fajar hingga siang, Bromo begitu mengagumakan. Pasir berbisik, padang savana, dan puncak semakin melengkapi betapa indahnya spot matahari terbit terbaik ini.

Setelah kembali ke Malang, kami tidak melanjutkan aktifitas wisata. Kami istirahat dan memulihkan badan selepas dari Bromo. Baru malamnya, kami bertandang ke BNS.

BNS, wisata malamnya Malang. Dengan berbagai wahana, tempat ini begitu nebarik. Terlebih tatanan lampu yang di sajikan sedemikian rupa sangat menawan.

Dan tidak ketinggalan, tempat ini sangatlah romanticable. Tempat yang begitu friendly bagi pasangan, keluarga maupun pasangan.Banyak sekali foto yang sudah saya abadikan di kamera saya.

Rasanya enggan jika membicarakan kota tanpa makanan khasnya. Sebab memang kali ini saya memang ingin menikmati Kota Malang dan segala yanng disajikan.

Meskipun bakso sudah terkenal dan menjadi jajanan makanan khas kota ini, namun sebenarnya banyak sekali kuliner yang punya naman, bercita rasa khas, serta memiliki nilai sejarah.

Misalnya saja Toko Oen di jantung Malang. Toko yang semacam cafe, yang menyediakan es krim khas mereka. Belum lagi sego resek yang di jual di pinggir jalan, yang juga memiliki cerita sejarah. Dan banyak lagi.

Rasanya tidak cukup kali ini saja saya menceritakan bagaimana menariknya Kota Malang. Mungkin sekian dulu, intinya kota ini sangat “wah” untuk dijadikan destinasi wisata.

Saya masih belum ke pantai, yang katanya masih banyak hidden place yang belum terlalu terjamah di jajaran pantai Kota Malang. Atau bahkanpantai yang memaang sudah terkenal sedari dulu seperti Balekambang maupun Sendang Biru.

Next trip, saya berencana murni menjelajah panti. Ingin menikmati ikan bakar di Pantai Sendang Biru. Saya juga penasaran dengan jajaran pantai yang bertatapan langsung dengan Samudera Hindia.

Saya masih ingin kemari.

Sekian dari saya, sekian cerita singkat saya ketika berlibur ke Malang. Di liburan selajutnya, akan saya ceritakan kembali bagaimana dan apa saja yang saya dapat dari trip saya. Sekian.

Jasa Sewa Mobil, indolora.

Rate this post
Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *